Mari Berdamai dengan Alam, Sebuah Inovasi Bahan Ajar Fisika Menjadi Solusi Oleh: Radha Firaina, S.Pd

 
Radha Firaina, S.Pd 
(Mahasiswa Magister Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Padang)


SagoNews.com - Suatu hari ketika hujan badai di Dharmasraya, saya terperanjat dengan kuatnya bunyi petir. Saya tidak bisa bayangkan apabila saat itu saya sedang berdiri di tengah sawah yang luas. Mungkin saat itu saya sudah gosong tersambar petir. Kenapa saya berpikir demikian? Ya, tentu karena saya mahasiswa fisika yang cukup mengerti tentang aliran listrik dari petir tersebut. Tetapi, bagaimana dengan masyarakat lainnya yang tidak secara serius mempelajari fisika? Misal bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang menggarap padinya di sawah. Jangan salah, mereka bahkan lebih tahu tentang bahaya itu, sehingga akan berusaha menghindar untuk berada disituasi demikian.

Meskipun bukan bidangnya, orang akan cenderung belajar tanpa disuruh jika itu adalah sesuatu yang mereka butuhkan. Kebutuhan inilah yang kadang sebagian orang tidak sadar bahwa diri mereka sebenarnya butuh hal tersebut. Saat pemerintah menginformasikan tentang bahaya covid-19, orang-orang tanpa sadar mulai mempelajari bahayanya dan bagaimana menghindari penularan virus tersebut. Pemerintah mungkin saja ‘memaksa untuk sering mencuci tangan, tetapi mereka tidak akan tahu apakah kita sesampainya di rumah benar-benar mencuci tangan atau tidak. Apakah kamu tetap mencuci tangan? Itu tergantung seberapa sadar kamu tentang butuhnya menjaga keselamatan diri dan keluarga.

Berbicara tentang kesadaran akan kebutuhan. Saya ingat ketika dosen saya pernah bertanya Apakah banjir itu bencana? Semua mahasiswa tampak setuju untuk menjawab Ya. Namun, dosen saya menanggapinya, Banjir itu bukan bencana, tetapi fenomena alam. Tapi banjir bisa menjadi bencana banjir. 

Pembahasan semakin menarik ketika dosen saya mulai bertanya kembali Kalau seandainya banjir terjadi di tengah hutan atau daerah yang tidak ada manusianya atau jauh dari keramaian. Apakah itu memberikan kerugian?. Lantas kami kompak menjawab Tidak, Pak. Lalu dosen kami melanjutkan Nah, banjir itu pasti terjadi di daerah yang memang rawan banjir. Banjir itu hanyalah sebuah fenomena alam yang terjadi karena penyebab tertentu. Tapi kenapa banjir di Jakarta dikatakan bencana banjir?. Setelah penjelasan tersebut saya pun mengerti bahwa fenomena alam yang disebabkan oleh alam pasti akan terjadi. Namun ia akan menjadi bencana ketika memberikan kerugian baik bagi manusia ataupun bagi lingkungan. 

Beberapa penelitian mengungkapkan  bahwa daerah-daerah tertentu memiliki kondisi geografis yang rawan banjir. Artinya, banjir itu memang akan terjadi disana, dan informasi ini diketahui oleh masyarakat. Di Jakarta warga sipil nekad membangun rumah di daerah yang memang berpotensi banjir, namun tidak memberikan perhatian yang baik kepada lingkungan. Tidak ada satupun ahli yang mengatakan bahwa membuat sampah sembarangan adalah tindakan yang benar, justru para ahli sudah meneliti jika tindakan ini terus dilakukan, maka akan menimbulkan bencana banjir. 

Berbeda dengan di Belanda, dua per tiga kawasannya adalah dataran rendah yang berpotensi banjir. Seperti halnya di Jakarta, warga sipil tetap tinggal disana meski tahu daerah tersebut rawan banjir. Namun, di Belanda, kondisi yang kurang menguntungkan ini mereka terima dan disiasati dengan berbagai cara seperti membuat palang air,  membangun rooftop garden dengan memanfaatkan air hujan, dan sebagainya. Mereka sadar, mereka belajar, dan kemudian mengambil tindakan yang bijak. 

Dari kuliah Fisika Bencana Alam yang saya dapatkan, mulailah saya sadar bahwa bencana alam pasti merugikan, akan tetapi dapat diminimalisir jika kita mengetahuinya lebih awal tentang karakteristiknya sehingga dapat melakukan tindakan sebelum, saat, dan setelah terjadinya atau yang dikenal dengan upaya mitigasi bencana alam.

Tindakan mitigasi dapat diibaratkan hubungan harmonis antarmanusia. Jika manusia yang satu dapat bertoleransi dengan manusia yang lain karena saling mengerti, meski ada kebiasaan yang berbeda atau tak sejalan, kita dapat meminimalisir terjadinya perdebatan yang menimbulkan pertikaian. 

Sama halnya antara manusia dan fenomena alam, apabila kita mengerti karakterisitik fenomena alam tersebut, maka kita bisa mensiasatinya sebagai bentuk toleransi bahwa alam juga perlu ruang untuk bergerak sebagaimana seharusnya. Jika alam tidak diperlakukan dengan baik, maka alam pun akan bertindak sama, banjir akan tetap terjadi dan makin berbahaya karena ruang geraknya tidak tersedia.

Di Dharmasraya, kita perlu menyadari bahwa kabupaten Dharmasraya merupakan kawasan dengan luas daerah tutupan hutan terluas di Sumatera Barat. Kozak (1998) mengatakan bahwa vegetasi hutan dapat mendorong aktivitas konvektif atmosfer yang memicu petir. Daerah dengan tutupan hutan yang luas juga mempunyai jumlah petir yang lebih banyak dibandingkan daerah yang luas hutannya lebih kecil. Oleh karena itu, kabupaten Dharmasraya dapat dikatakan sebagai daerah yang memiliki potensi rawan petir.

Pertanyaan serupa mungkin akan muncul di kepala kita Apakah petir juga bisa menjadi bencana?. Saya rasa kita semua bisa menjawabnya dengan jelas. Apabila petir itu sudah sampai meresahkan dan memberikan kerugian pada manusia dan lingkungannya, maka petir dapat menjadi bencana petir. Tidak jarang kita mendengar berita bahwa ada orang yang tewas tersambar petir. Kerusakan jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, dan gangguan transportasi udara, laut, dan darat termasuk kerugian dari dampak sambaran petir. 

Tapi jangan khawatir, mari kita berdamai dengan fenomena alam yang  satu ini. Petir merupakan peristiwa fenomena alam yang peluahan listrik antara suatu awan bermuatan dengan bumi, atau antara awan bermuatan dengan awan bermuatan lainnya. Singkatnya, penyebab petir disebabkan oleh alam, sehingga sulit bagi kita untuk menghindari agar petir tidak terjadi. Solusi untuk menghindari bahayanya adalah dengan mempelajari perilaku petir, beberapa tindakan mitigasi yang tepat dapat menyelamatkan kita dari tersambar aliran listrik dari petir.

Sebagai masyarakat yang cerdas dan mementingkan keselamatan diri dan keluarga, kita bisa mendapatkan informasi tersebut di internet. Lebih dini lagi, generasi muda seperti anak sekolah akan lebih mudah mendapatkannya di bahan ajar sekolah yang sudah mengintegrasikan potensi daerah sebagai perwujudan seruan dalam Peraturan Pemerintah No 32 tahun 2013 pasal 77 B agar siswa dapat mengenal dan memahami karakteristik daerahnya. 

Anak sekolah bisa dieduksi sejak dini melalui bahan ajar yang mengaitkan potensi daerah tempat mereka tinggal, misal bahan ajar fisika yang terintegrasi materi bencana petir. Sembari mereka mendalami ilmu fisika, mereka juga dapat mengerti fenomena alam seperti petir beserta upaya mitigasi bencana petir. Tidak sampai disana, karena yang mereka pelajari adalah sesuatu yang sudah sering mereka lihat di keseharian, anak-anak akan cenderung menceritakan apa yang mereka pelajari tersebut kepada orang tua mereka dengan antusias seperti seorang ahli yang maha tahu. Jika kita bayangkan upaya ini tampak sederhana, bukan?.

Jika kita rencanakan, upaya ini ternyata melibatkan semua pihak. Jika kita realisasikan, upaya ini perlu dukungan yang baik dari semua pihak baik itu pemerintah maupun masyarakat, khususnya dalam menyediakan bahan ajar terintegrasi bencana alam tersebut. 

Selama lebih dari satu tahun, kita menjalani kehidupan para era new normal. Bahan ajar yang digunakan di sekolah pada saat ini umumnya berupa bahan ajar elektoronik seperti e-book yang bisa diakses dimana saja. Apakah ini menjadi beban baru?. Mari kita berpikir sebaliknya, justru ini potensi baru untuk melakukan sedikit improvisasi dengan menghasilkan inovasi baru. Bahan ajar elektronik justru lebih memudahkan kita menampilkan apa yang dinarasikan dalam paragraf bisa didampingi dengan tampilan audio dan visual seperti video yang menampilkan fenomena alam seperti petir. 
Dengan meng-upgrade skill kita dalam bidang ICT, maka sebuah inovasi yang bermanfaat bagi orang banyak dapat lahir dengan mudahnya. 

Harapan saya sebagai mahasiswa fisika, saya ingin semua orang sadar bahwa sebagai manusia kita tidak bisa mengendalikan semuanya meski kita memiliki ilmu yang sangat tinggi, tetap Yang Maha Kuasa-lah pengatur segalanya. Akan tetapi, dengan itu tidak menjadikan kita selalu berpasrah diri, sebagai siapapun kita di dunia ini, tetaplah berusaha menjadi berguna bagi orang lain setidaknya bagi diri kita sendiri. Bencana alam sebagian besar dapat diprediksi kapan terjadinya, dan sebagian lagi diluar kuasa kita. Jika saat ini saya sebagai mahasiswa fisika akan mengembangkan e-book fisika terintegrasi bencana petir, kemudian berhasil merealisasikan penggunaan e-book ini dalam upaya meningkatkan kemampuan mitigasi bencana petir di Dharmasraya. Bayangkan jika kita bergerak bersama dimana hal yang serupa juga direalisasikan oleh orang lain di masing-masing daerahnya, maka kita dapat meminimalisir kerugian akibat kelalaian manusia dalam menghadapi  bencana yang bisa saja terjadi di masa mendatang.