Didedikasikan Kepada Perantau yang Tak Bisa Pulang Kampung INILAH PENYEBAB KENAPA LAKI-LAKI MINANGKABAU ZAMAN DULU BANYAK YANG SUKSES || Feni Efendi

Foto salah satu kampung di Sarasah Tanggo Lembah Harau |Foto Fadli Riansyah


Pada zaman dulu, sebelum tahun 1970-an, masih banyak anak-anak laki-laki tidur di surau. Apalagi sebelum 200 tahun yang lalu. Setiap kaum dari masing-masing suku akan membuat surau untuk kemenakannya. Maka dengan begitu, setiap mamak akan lebih mudah mengajari dan mengontrol kemenakannya. Dan setiap orang dewasa akan mengontrol setiap kemenakan dari sukunya masing-masing meskipun sudah berbeda kaum. 

Anak-anak belajar mengaji di surau. Ketika di awal malam dilanjutkan dengan belajar silat. Dan lalu tidur bersama-sama di surau. Lalu di pagi hari pun sesudah shubuh pulang ke rumah induk (rumah gadang) untuk sarapan pagi. Dan setelahnya pergi ke ladang atau ke sawah. 

Siang hari anak laki-laki pulang ke rumah induk untuk makan siang. Dan setelahnya dilanjutkan minum kawa di lapau. Tentu di lapau itu diramaikan pula oleh anak-anak yang lain. Maka terlatih pulalah anak laki-laki itu bersilat lidah. Kalau tak pandai bersilat lidah maka jatuhlah tuah di dalam kampung. Dan pada masa itu, anak laki-laki yang tak pandai duduk di lapau ibarat seperti tupai tua. 

Setelah anak laki-laki dewasa, maka akan menjadi buah gunjing pula di nagari kalau tak merantau. "Apa di jenjang rumah kakak (plasenta bayi) engkau dikuburkan ketika lahir". Maka panas pulalah kuping mendengarnya. Mau meminang gadis sekampung tentu bakalan ditolak jika belum pernah sukses merantau. Maka akhirnya anak laki-laki terpaksa merantau. Kalau masih tetap di surau, maka kawan-kawan sebaya sudah tidak ada lagi. Sangat malu rasanya menjadi paling tua di antara anak-anak yang mau besar itu. Tidur di rumah induk pun juga tidak mungkin karena konsep rumah gadang dibuatkan dan dihuni hanya untuk perempuan di kaumnya. Lalu akhirnya pergi merantau juga akhirnya. 

Selama dalam perjalanan merantau, si anak laki-laki dibekali makanan yang bisa bertahan lama di perjalanan. Lalu gulai daging itu pun terus dipanaskan hingga menjadi rendang. Dan dari sinilah asal muasal rendang mulanya yaitu untuk merantau. Setiba di rantau maka di mana ranting di patah, di si tulah air disauk. Maka dengan begitu, induk semang cari dahulu. 

Karena anak-anak laki sudah terbiasa mempertahankan tuah dan harga diri di kampung (sesuai budaya lapau) maka umumnya laki-laki minang lebih suka memilih pekerjaan sebagai pedagang, politikus, seniman, ulama, cendikiawan, dll. Lalu ketika pulang ke kampungnya dan menikah, ia menetap di rumah istrinya. Di rumah istri pun ia seperti abu di ateh tunggua, sedangkan di rumah induk pun ia tidak memiliki tempat maka dengan begitu, berputarlah kincir-kincir akalnya supaya bisa mapan. Maka dengan begitu bisa pulalah ia memiliki harta pencarian yang membuat masa tuanya terhindar untuk tinggal di surau tinggal atau di dangau tangah sawah. 

Namun setelah tahun 1970-an, di mana segala transportasi berjalan lancar, gaya hidup berubah, budaya bergeser maka sakali aia gadang, sakali tapian barubah. Maka sejak saat itu, orang-orang tua di Minangkabau membangun rumahnya dari beton-beton dan membuatkan kamar sendiri untuk anak laki-laki nya. Lalu ketika orang-orang hari ini teriak "babaliak ka nagari atau ba baliak ka surau" tetapi kamar anak laki-laki nya semakin diperbesar, ditambah pula televisi di dalamnya, play stasion, dan wifi. Lalu saya berpikir, "Apa pula yang dikatakan oleh gaek ini!"

Selamat hari raya idul fitr. Mohon maaf lahir batin. 

Catatan: didekasikan kepada perantau yang tak bisa pulang kampung. 

Feni Efendi, pencatat memori kolektif.