Kunjungan Wamendag ke PLUT, SRG Gambir dan Pasar Piladang Dorong Kemajuan UMKM

Wamendag di PLUT 


Limapuluh Kota, SAGONEWS.COM – Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga melihat pengembangan komoditas gambir di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat masih sangat prospektif dari potensi produksi dan pemasaran pada pasar domestik dan ekspor. Namun, dari 
pengembangan komoditas ini belum dibarengi dengan peningkatan produktivitas maupun pendapatan petani.

“Skema resi gudang ini diharapkan membantu petani untuk mendapatkan harga tawar yang lebih baik dan jaminan penyerapan pasar. Apalagi gambir di Kabupaten Limapuluh Kota menjadi 
komoditas daerah dengan keunggulan komparatif yang harus benar-benar diperhatikan untuk peningkatan ekonomi dan perdagangan,” jelas Wamendag Jerry saat melakukan peninjauan ke Gudang Sistem Resi Gudang (SRG) komoditas gambir di Gudang SRG di Nagari Sarilamak Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, hari ini, Jumat (21/5). 

Masih jelas Wamendag Jerry, SRG menjadi solusi bagi petani dalam mengatasi musim panen. Dengan adanya SRG, petani tidak harus segera menjual hasil panen karena dapat menyimpan hasil panennya di gudang. SRG ini salah satu solusi untuk mengatasi harga jual.

 “Sistem resi gudang (SRG) berpotensi 
menjadi instrumen dalam mendukung pengendalian ketersediaan stok dan stabilitas harga komoditas pangan. Sebab, SRG dapat menjadi alternatif instrument dalam mendukung tata niaga 
dan distribusi,” papar Wamendag. 

Seperti diketahui Kementerian Perdagangan melalui dana DAK telah membangun 2 (dua) Gudang SRG di Kabupaten Limapuluh Kota, yaitu Gudang SRG di Nagari Sarilamak Kecamatan Harau dibangun tahun 2014 dan Gudang SRG di Nagari Gunung Malintang Kecamatan Pangkalan Kotobaru dibangun 
tahun 2017. Kedua gudang tersebut dapat menampung hasil produk petani gambir sebanyak 3.000 ton. 

Program SRG ini sambungnya merupakan program pemerintah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2011 tentang Sistem Resi Gudang. Kementerian Perdagangan juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 33 Tahun 2018 tentang Barang dan Persyaratan Barang yang Dapat Disimpan dalam Gudang Sistem Resi Gudang. Ada 18 komoditas yang bisa diresigudangkan, yaitu gabah, garam, beras, gambir, jagung, teh, kopi, kopra, kakao, timah, lada, bawang merah, karet, ikan, rumput laut, pala, rota, dan ayam beku karkas.BKeunggulan dengan resi gudang ini tidak perlu lagi pihak perbankan untuk studi kelayakan. Ini sudah menjadi jaminan pasti. Tentunya, untuk masuk ke Resi Gudang, ada syarat dan ketentuan. Salah satunya produknya harus berkualitas,” urainya.

Pada saat dialog SRG yang dihadiri Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga, Wakil Bupati Limapuluh Kota, Rizki Kurniawan Nakasari; Sekretaris Daerah Kabupaten Limapuluh Kota Widya 
Putra; Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatra Barat, Asben Hendri; Kepala Biro Pembinaan dan Pengawasan SRG dan PLK Badan Pengawas Perdagangan Berjangka, Widiastuti;
Plt Kadis Perdagangan, Koperasi dan UKM, Ayu Mitria Fadri; penyelenggara Pasar Lelang Komoditas PT Grafika Jaya Sumbar; calon pengelola Gudang SRG PT Salimbado Jaya Indonesia, dan petani gambir, Widiastuti menekankan pentingnya dukungan para kepala daerah dan pemerintah daerah 
dalam implementasi SRG di daerah masing-masing melalui kebijakan yang mendorong pemanfaatan SRG, infrastruktur, pembentukan kelembagaan SRG, serta koordinasi aktif di antara pemangku 
kepentingan terkait.

"Insya Allah kita akan kawal SRG ini sehingga dapat membantu kesejahteraan petani," pungkas Wakil Bupati Limapuluh Kota, Rizki Kurniawan Nakasari.
Rizki mengakui, salah satu komoditas unggulan daerahnya adalah gambir. Bahkan lebih kurang 75 
persen pasokan kebutuhan dunia disuplai dari Kabupaten Limapuluh Kota. 

“Permintaan terbanyak memang untuk ekspor sebagai bahan baku untuk industri tekstil dan farmasi. Namun, di pasar 
domestik tidak berkembang komoditas gambir karena adanya monopoli perdagangan,” ucapnya.

Dikatakan, pihaknya sangat berterima kasih atas perhatian dari Kementerian Perdagangan, khususnya terhadap pengembangan SRG gambir. 

“Kami apresiasi kepada Kemendag terhadap pengembangan SRG gambir dalam rangka melindungi petani. Semoga kedatangan Wamen dapat memberikan solusi terbaik untuk hal itu,” ucapnya. 

Dari laporan Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Limapuluh Kota, Ayu Mitria 
Fadri didampingi Kabid Perdagangan Wiwing Nofri menyebutkan dikondisi harga normal Produksi Gambir Lima Puluh Kota perbulannya bisa mencapai 1.000-1.500 ton, tapi kondisi saat ini ketika 
harga turun hanya mencapai 400 ton perbulan. 

Dikatakan saat ini pangsa pasar terbesar ekspor gambir ke India. Namun, akibat imbas dari lockdown gelombang baru penularan Covid-19 di negara tersebut terhenti, sehingga berpengaruh 
pada penurunan harga. “Komoditas gambir sangat berpengaruh kepada fluktuasi harga, bila harga bagus produksi meningkat, tapi bila harga anjlok pastinya produk akan menurun. Untuk kami meminta Kemendag bisa membuka akses ekspor ke negara-negara lain di luar India,’ ’ ujar Ayu. 

Harga Stabil
Dalam kunjungan ke Pasar Piladang Wamendag Jerry menjelaskan harga barang kebutuhan pokok 
(bapok) pasca Lebaran terpantau relatif stabil. Harga bapok beras, daging sapi, daging ayam, telur, minyak goreng, dan cabai tetap stabil. 

“Pasca Lebaran infonya masyarakat yang belanja tidak ada yang melakukan aksi borong membeli kebutuhan bahan secukupnya, sehingga harga bapok tetap stabil tidak ada gejolak,” ungkapnya.

Sementara itu terkait Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Wamendag Jerry meminta PLUT Kabupaten Limapuluh Kota bisa jadi center of excellence (pusat unggulan) layanan perdagangan. 

“PLUT harus dikelola lebih baik lagi, lebih terukur, kalau memang belum optimal ya harus lebih diaktifkan lagi, catatan administrasi juga harus dirapikan. Dengan demikian standarnya bisa ditingkatkan lagi dalam pelayanan,” katanya.

Pada kunjungan kerja di Kabupaten Limapuluh Kota, Wamendag selain meninjau pasar dan PLUT juga berkesempatan mengunjungi sentra UMKM Songket Halaban, Sentra Gula Semut, Bukik 
Sikumpa, Sentra Bordir dan Mi Simalanggang. Selain itu juga meninjau lahan pembangunan pusat 
oleh-oleh di Harau.