Bunuh Diri Bukan Solusi Penyelesaian Masalah




Oleh: M. Ariful Fikri, S.Kep (Sekretaris DPD KNPI Kota Payakumbuh)

“Bunuh diri banyak dilakukan bukan karena ingin mengakhiri hidup, tapi mengakhiri masalah yang sedang dihadapi”

Bunuh diri masih menjadi masalah besar di Indonesia. Kejadian bunuh diri kemungkinan besar lebih tinggi daripada angka yang dilaporkan secara resmi. Menurut penelitian terbaru Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia, kelemahan sistem pendataan bunuh diri berhubungan dengan masalah kejiwaan dan aib yang membuat pihak keluarga kebanyakan bungkam dengan informasi yang dibutuhkan.

Tercatat pada tahun 2020, secara resmi ada 670 Kasus bunuh diri di Indonesia yang dilaporkan. Tingkat pelaporan di Indonesia dan Dunia masih rendah, yaitu dibawah 50%. Angka bunuh diri bisa lebih besar karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya pelaporan kasus bunuh diri pertama karena stigma dan dampak sosial yang menyebabkan keluarga tidak melaporkan orang yang dicintainya telah bunuh diri, kedua karena keluarga merasa bunuh diri adalah aib yang harus disembunyikan, ketiga karena Indonesia belum memiliki sistem registrasi kematian yang melaporkan data secara akurat.

Bunuh diri merupakan bagian dari masalah kesehatan mental yang perlu mendapat perhatian dan harus diatasi. Faktor permasalahan yang sangat kompleks baik dari aspek biologis, psikologis, dan sosio kultural yang terakumulasi dalam bentuk stress yang tidak mampu diselesaikan lagi secara logis oleh penderita menyebabkan seseorang ingin melakukan bunuh diri. 
Secara perilaku seseorang yang ingin bunuh diri banyak menunjukkan sikap yang tidak lazim dilakukan manusia normal. Lebih banyak menyendiri dan diam, tidak banyak interaksi, malas beraktivitas dan menghindari bertemu orang lain. Di beberapa kasus, ada yang mengungkapkan niat dan keinginan bunuh diri kepada orang sekitarnya.

Allah SWT dalam surah An Nisa ayat 29 melarang manusia untuk membunuh diri sendiri, hal itu dikarenakan Dia menyayangi para hamba-Nya. "... Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

Alasan lain dilarangnya bunuh diri dijelaskan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya Mistik, Seks, dan Ibadah, "Nyawa manusia bahkan seluruh jiwa raganya adalah milik Allah SWT yang diamanatkan kepada masing-masing manusia. Kita tidak dapat menjualnya karena bukan milik kita. Nyawa pun tak boleh dipisahkan dari badan kecuali atas izin-Nya."

Selain surah An Nisa ayat 29 di atas yang menjadi dalil larangan bunuh diri, Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits terkait hukum bunuh diri ini. Imam Nawawi melalui Syarah Riyadhus Shalihin melampirkan riwayat dari Abu Zaid Tsabit bin Adh-Dhahhak Al-Anshari, di mana Nabi SAW bersabda "Barang siapa membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada hari kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu." (Muttafaq Alaih)

Keluarga dan Lingkungan sekitar memiliki peran yang sangat besar dalam pencegahan bunuh diri, dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat diperlukan untuk menguatkan kondisi mental dan emosinal penderita sehingga penderita merasa tidak sendiri. Mereka butuh teman cerita, bukan cemoohan dan cacian yang membuat penderita semakin yakin menjalankan niatnya untuk bunuh diri. Mari rangkul dan berikan dukungan terbaik untuk sahabat kita.