Panyiaram Gulo Saka dan Lumer Ketika digigit di Nagari Taeh Bukik Kabupaten 50 Kota Menjadi Ikon Makanan Tradisional Kabupaten Lima Puluh Kota




Oleh 
Weriantoni, S.E., M.Sc
Mai Saharani

Payakumbuh, SGN (02 Des 2023) - Taeh Bukik adalah salah satu nagari di Kabupaten Lima Puluh kota yang memiliki potensi lahan yang produktif, tingkat kesuburan tanah yang lumayan tinggi serta kondisi air dan curah hujan yg selalu ada di setiap tahunnya. Karena itulah hasil persawahan, perkebunan (aren), perladangan dan peternakan (sapi) masih menjadi mata pencaharian sebagian penduduknya selain yang pergi merantau.Walaupun ada wilayah yang tidak digunakan sebagai lahan seperti Semak belukar, Padang rumput dan Hutan , tapi potensi hasil perkebunan hasil hutan seperti pohon aren bisa berpotensi yang cukup besar untuk meningkatkan roda perekonomian masyarakat contohnya mengolahnya menjadi .Besarnya potensi pohon aren di Taeh Bukik membuat sebagian besar laki-laki dewasa bermata pencarian sebagai petani aren, sedangkan para ibu – ibu biasa memanfaatkan bunga nya untuk di jadikan air niro lalu di buat gula aren/gula semut dan buahnya bisa di buat kolang – kaling untuk di jual kembali.Salah satu pemanfaatan gula aren adalah mengolahnya menjadi makanan tradisional Sumatra Barat yaitu Paniaram Soka Niro.Pembuatan Paniaram soka niro juga menggunakan gula aren yang bentuknya gula batok bukan silinder terpotong.

Usaha UMKM kelontong yang menjual Paniaram Soka Niro ternyata sedikit yang jual di Taeh Bukik dan menjadi makanan tradisional favorit dari warga lokal maupun yg datang berkunjung ke Taeh Bukik bahkan sampai datang jauh – jauh hanya demi mencicipi Paniaram. Dialah Jemari Hasmi yang berumur 65 tahun warga jorong Pabatungan yang sudah terkenal akan pinyaram buatannya. Ibu hasmi ini membuka warung kelontong di sertai usaha Paniarama di sampingnya. Dengan bermodalkan ulet dan tekad, ibu ini menuturkan selalu dapat keuntungan dan tidak pernah rugi. Selain karena di jorong Pebatungan belum ada yang menjualnya, kelezatan paniaram ibu Hasmi juga tiada duanya. Bu hasmi menuturkan, untuk membeli dalam jumlah banyak, harus order jauh – jauh hari dulu. Karena ketika hangat dan panas, paniaram ibu ini akan terasa tekstur lumer di dalamnya dan lembut di luarnya, dan ibu ini baru mulai menggoreng sekitar jam 9 pagi. Untuk itu cocok di makan ketika sarapan atau pengganjal lapar pengganti nasi. 



Setelah berkunjung dan melakukan observasi, beliau menuturkan bahwa permasalahan utama usahanya adalah kurangnya pemasaran, inovasi dan kreatif kemasan. Biasanya memasarkan usahanya selama ini hanya dijual di di Nagari Taeh Bukik saja dan Nagari tetangga sekitar Kecamatan Payakumbuh saja. Belum meluas hingga ke toko – toko besar seperti sanjai atau usaha oleh-oleh di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh. Pemerintah Kabupaten Lima Puluh juga diharapkan juga bisa membantu dalam memasarkan panyiaram ini sebagai makanan tradisonal khas Kabupaten Payakumbuh yang sangat enak dan lumer ketika digigit.