Dera Anak Gembala, Part II Serial Menuju Langit



Ditempat gembala, ia merasakan semilir angin membelai lembut. Aliran sungai bak denting piano merasuki tubuhnya. Dera semakin dekat dengan alam, dengan perasaan lembut bermajas personifikasi dan semakin percaya indahnya ciptaan Tuhan. Hatinya tentram melihat rumput hijau, terbentang bak permadani disantapi sepasang kambingnya. Dera asyik bermainan dengan alam, berpindah dari pematang ke pematang. Asal kambing kenyang, ia pulang.


Tepat pukul enam senja itu, ketika azan magrib berkumandang. Dera menggiring kambing untuk masuk kandang, mengikatkan talinya pada tiang aman. Dera tahu betul yang terbaik untuk ternaknya, Ia teliti dan hati - hati namun cekatan, jari - jari Dera sangat lihai memainkan simpul diakhir ikatan tali kambing nya. Tak lupa sebelum pergi Ia menutup kandang kambing itu agar tetap aman.


Di rumah, yang pertama dilakukan Dera adalah mandi sambil berwudhu', shalat, mengaji. Setelah itu makan ala kadarnya untuk selanjutnya membaca atau menulis, dua rangkai kegiatan itu bak kebutuhan bagi Dera, dimasa kecil. Sehingga Ia tak bisa hidup tanpa air, satu lagi tanpa bacaan. Mungkin dia ingin membersihkan rohani dan jasmaninya, meski usia 7 tahun itu belum berdosa. Sisi agamais jelas lahir dari Khairul, Ayah Dera.


Jika ada hobi yang paling murah dan mudah, itu adalah membaca. Seperti hobi anak desa umumnya, diantara mereka Dera paling banyak dan sering membaca. sebab rumah kayu Dera, dibangun oleh kedua orang tuanya berukuran empat kali enam meter, satu ruang tidur dan satu ruang makan, ruang tamu dan dapur boleh diatur inginnya dimana. Lantainya tanah, beralaskan tikar goni, dindinnya papan dihiasi kertas koran untuk menutup celah angin. Selama berada di rumah, selama itulah Dera dihadapkan dengan berbagai kosa kata.


Hampir setiap malam, sebelum tidur di pelukan Ibunda, Dera dan Ibunya seringkali bercanda, dengan mencari salah satu kata dalam berita koran plasteran rumahnya. Bukan kerja mudah untuk siswa SD kalau tak pandai membaca memindai, Dera selalu mendapatkan letak dari kata yang disebutkan Ibunya. Setelah itu mereka gantian, hingga Dera tertidur di pangkuan Ibunda dengan sebuah senyuman.


Dera tertidur memang kelihatan tersenyum, sebab sepasang gigi kelincinya kerap kali muncul di bawah bibir atasnya. Sepasang gigi yang memberikan kebahagiaan tak hingga, bagi Ibu dan Ayahnya, kambing ternaknya, rerumput hijau dan segenap jangkrik sawah bersuka ria menemani mimpinya. Dera telah tidur, untuk selanjutnya harus digendong Sang Ayah kalau mau dia tidak bangun.


Malam semakin larut, tiupan angin berpadu dengan kilat malam. Hujan rintik perlahan mulai membasahi dedaunan, dingin menyeruak masuk pori - pori tubuh mungilnya, memaksa untuk bergelumun dalam selimut kain sarung itu. Dera terbiasa tidur menelungkup, sebab mengatasi supaya tak masuk angin.


Ayam berkokok, burung berkicau. Perlahan kuning padi berubah menjadi emas, sinar matahari mengilaukannya. Kehidupan Dera yang sederhana, dilaluinya dengan penuh suka cita. Pelajaran di sekolah membuatnya mengerti, logika dan rasa. Ditambah lagi dengan mengaji Al-qur'an dan Ilmu Agama Islam, spiritual Dera terbentuk dan membuatnya mantap memandang masa depan. Serta pelajaran Adat Alam Minangkabau yang sering didengarnya, seolah melekat di benaknya. Ia pandai bersikap, tenang dalam berbicara dan tunduk pandangannya. Ia tak gegabah.


Sekolah yang awalnya meragukan kemampuan anak di bawah umur, patah oleh kehebatan ilmu agama dan ilmu adat yang ditimba Dera, dari siapa dan apa saja Ia berguru. Dera belajar Ilmu Agama dan mengaji di Surau milik masyarakat, Tek Eni dan Da Ajis nama guru mengaji Dera. Ia dibina dengan kombinasi keras dan lunak, logika dan rasa. Tek Eni orangnya suka marah, ketika Dera tak fasih melafazkan huruf, sedangkan Da Ajis orangnya lebih lembut dan baik. Da Ajis suka menghibur Dera apabila dimarahi Tek Eni, Ia tak malu - malu melantunkan khasidah atau pantun jenaka.


"Adat Basandi Sara'

Sara' Basandi Kitabullah"


Di samping belajar ngaji, Dera juga suka belajar Adat. Ilmu Adat secara khusus Dera terima dari Datuknya, penghulu suku, Salami namanya. Datuk ini juga salah satu pahlawan PETA, singkatan Pembela Tanah Air. Datuk paham betul seluk beluk adat Minangkabau, "Lamo bajalan banyak diliek, lamo iduik banyak dirasai." Karena lama hidup, Datuk ini banyak tahu.


Datuk Penghulu Salami, menerangkan kepada Dera secara rinci mengenai adat Minangkabau. Asal muasal, perjalanan, aturan - aturan, ranji adat, harta warisan, hubungan - hubungan, dan segudang pengetahuan yang tak pernah Dera dapatkan di bangku pendidikan, ilmu lapangan orang bilang. Dera lihai berdebat, sebab ilmunya banyak, Ia setia menjadi pendengar dan sekali - kali bertanya, untuk memperdalam kajian ilmunya.

***

Hari ini, 21 Juni 2006 sangat menentukan bagi Dera. Ini hari kelulusannya Dari sekolah Dasar, hatinya berdegup, sebab sistem Ujian Nasional (UN) tingkat SD saat itu telah diberlakukan. Tetapi Ia optimis, siap menatap masa depan. Dera juga tercatat sebagai murid yang tak diragukan, dari kelas 1 hingga kelas 6 Ia selalu mendapat juara kelas. Walau tak pernah, mendapatkan juara 1.

Bersambung

Karya : Fadli Riansyah Putra