Puisi - Puisi Fadliriansyah Sikumbang

Bulan Tanpa Cahaya
/fadliriansyah

Aku lah bulan tanpa cahaya, 
Membekas ingatan bayang dikala kusam
Tak ku sangka , prahara gelap jua terbagi dua
Padamu kuserahkan lentera, bisikku pada nafza - nafza nan beku

Bulan saja mati dipangkuanmu, bagaimana ia bisa ? Apakah ia dewa, tuhan atau matahari

Barangkali sehebat itu pula kau berlari, menggenggam bara api
Api ku
Cahaya ku, sukmaku
Jiwa dan
Ragaku

Apalah aku bulan tanpa cahaya
Sendiri dalam gelap dan sunyi
Berputar , meraba - raba isi bumi
Sesekali menggedor pintu langit !

Ah, Nun ku, sukun ku. Alif, Ba, Ta ku
Menggigil aku bila cahayamu kembali hadir
Menerangi aku dengan silau , agar ku berucap 
Aku salah ! 

Pucat pasi wajahku kini mati
Kaki ku luka, luka sekali
Biru - biru denyut nadi, makin kesini kau makin ku mati !


Payakumbuh, 29 Februari 2023


Mengenangmu Adalah Siksa
/fadliriansyah

Berulangkali ku ucap pada diri
Bahwa kau adalah racun naluri

Nalar ku mati, setiap kali kau hampiri
Sukma ku melayang, badan ku gamang
Oh kekasih 
Mengapa kau datang ? Mengapa kau pergi ?

Sehancur inikah kau saat itu,
atau aku saja nan hancur ! 
Tapi ku rasa tidak, 
Kau baik - dia baik 
Mereka juga baik

Cuma aku nan metafora mencintai, pergi 
Dan berulang kembali
Rasa itu kenapa abadi. Jika ku tanya ke dalam diri, maka hancur hatiku , rusak lambungku


Rasa itu menyayat hulu jantung, mengoyak limfa ; tak tertahankan !

Sesungguhnya segala nan datang pasti kembali
Segala nan pergi akan datang, tapi sekaratku semakin dekat. Tidakkah kau juga merasakan ?

Maafkanlah
Akibat segala kekacauan dan kehancuran yang ku lakukan. Hidupilah aku, kau kuhidupi.
Tangisi lah aku, kau ku ratapi 

Tetapi di dalam sajak ini, aku dan kau abadi !

Payakumbuh, 29 Februari 2023

Duri Dalam Sepi
/fadliriansyah

Masihkah jauh belantara harus ku tembus, langkah letih tapak kaki mengaus
Terseok tertatih dirajam duri. Bukankah pernah kau janjikan aku sorga ? 

Ruap aroma susu mengalir di bawahnya !

Sekujur tubuh memar, dibalut akar - akar
Kau tak memberi jeda. Kau siksa aku di dalamnya 

Tidak kah kau izinkan aku sejenak berhenti, mencabut duri di telapak kaki

Belati nan kau pinjamkan dulu, tak mampu memutus nadi rindu. Kau sayat aku dengan sikapmu !

Di belantara ini, kau duri dalam sepiku !

Sajak Kopi

Aku mencium mimpi dari aroma kopi
Jejak-jejak sajak menapak di cangkirnya
Ada resah, luka dan cekaman sepi
Lalu malam mulai membual di kepala

Di Ujung Februari

Februari aromanya wangi, janji dan 'chemistry' membuat senyum - senyum sendiri
 
Februari tempat luka - luka baru saja sembuh
Bunga - bunga mawar kembali mekar, dan rasanya tak satu pun nan sukar !

Februari musim menggenggam
Segala nan di tangan
Belum tentu pula dalam genggaman
Segala nan di hati, belum tentu kehendak hati

Februari penuh imajinasi, naluri dan,
isyarat lebih hati - hati
Karena Februari sebentar lagi pergi
Meninggalkan segala luka dan sakit hati

Selamat Datang Maret

Kantukku tak reda, malam ku berlalu
Mampukah kau menemani
Mengungkap rahasia langit dan bumi !

Atau sekedar menangkap
Aksara - aksara nan berhamburan 

Untuk Jus Merah Jambu

Kepada Jus merah jambu
Aku kabarkan segala duka mendungku
Dan Gemuruh tanah leluhurku

O, jus merah jambu
Panas menatari sejuk karenamu
Sepi sesepuh ku tersepuh - sepuh

Ia pergi, pemikirannya habis di sapu
Karyanya dikikis si kikir akan ilmu
O, jus merah jambu

Lihat lah langit siap mengisi telaga
Lihat lah siapa yang kini tuntaskan dahaga????

Terimakasih, jus merah jambu

Payakumbuh, 29 Februari 2023
Penulis Fadli Riansyah Putra
Nama pena : Fadliriansyah
Pimpinan SagoNews.com
Wakil Redaksi Tuahnusantara.com
Pegiat Literasi Payakumbuh book party